Makassar yang Berbeda
- trvlscpe
- Apr 5, 2019
- 2 min read
Hari itu perjalanan dimulai, Agustus 2018. Mengunjungi Tanah Toraja untuk yang kedua kali setelah 2 tahun vakum. Masih dengan tujuan yang sama, meliput pertandingan bola basket pelajar terbesar di Indonesia. Namun kali ini saya mempunyai waktu yang lebih banyak untuk bisa menikmati kota ini jauh lebih dekat.

Kuliner, dan Pantai Losari memang hal yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke Makassar. Terlebih spot ini menawarkan eksotisme sunset yang sungguh luar biasa. Namun tujuan kita bukan disitu. Ada satu tempat menarik yang ingin saya kunjungi. Sebuah tempat dimana peradaban budaya modern dan tradisional masih rukun bersanding. Pelabuhan Paotere.
Bermodal sosial media dan beberapa review dari internet membuat kami 100% niat untuk berkunjung kesana. Tidak jauh dari penginapan, hanya 30 - 45 menit menggunakan kendaraan roda empat.

Ramai, panas, dan tentunya aroma khas pelabuhan menemani langkah kami. Karena kami terlihat jelas sebagai wisatawan (salah kostum alias pakaian yang serba casual rapi bersepatu, pokoknya udah kelihatan banget kalo kita bukan warga lokal) membuat kami wajib membayar tiket masuk ke area pelabuhan. Mahal? Tidak. Kurang dari Rp. 5.000,- untuk satu orang dan sudah bisa menikmati beraneka ragam pemandangan yang ada disana.
Terik matahari yang seakan-akan berada tepat diatas kepala sama sekali tidak menyurutkan niat kami untuk tetap menikmati tempat tersebut. Alasannya sudah jelas, kami belum tentu bisa menikmati pemandangan seperti ini setiap saat. Jadi harus memanfaatkan waktu dan moment sebaik-baiknya. Patokan yang sudah melekat erat di pikiran saya ketika saya berkunjung ke sebuah tempat yang jauh dari rumah.

Melihat serunya kebersamaan, gotong-royong, jual-beli, semua terekam indah di kamera kami. Hingga melihat dengan jelas kokohnya perahu Pinisi yang masih menjadi primadona perahu tradisional para nelayan. Serta melihat banyaknya perahu-perahu yang bersandar rapi di dermaga seolah-olah ikut beristirahat santai di tengah terik mentari siang ini.
Meskipun waktu terbaik untuk mengunjungi pelabuhan ini adalah pada saat pagi atau sore hari (disamping aktifitas yang makin beragam, cahaya matahari pagi atau sore hari menawarkan kesan yang jauh berbeda tentunya), namun apapun yang terjadi, kami benar-benar menikmati siang itu di Paotere. Mengesankan. Ketika kalian bisa melihat dengan jelas bagaimana peradaban tradisional dan modern masih dijaga, dan rukun bersuara.
Hingga waktu yang memaksa kami untuk bergegas pergi dari tempat ini karena kami masih mempunyai tanggung jawab yang harus kami selesaikan hari ini.
Terima kasih Makassar. Sampai berjumpa kembali di waktu yang jauh lebih baik!



Comments