You did well, Phantom!
- trvlscpe
- Apr 14, 2019
- 2 min read
Singkat cerita tentang benda kesayangan. Iya, drone kedua yg saya miliki, yg saya rawat dengan hati-hati. Adalah DJI Phantom 3 Standard. Drone Phantom generasi ketiga milik produsen UAV ternama, DJI. Meskipun mempunyai label standard, namun kemampuannya lebih dari sekedar standard. Powerful untuk ukuran drone dengan harga yg cukup terjangkau.
Drone ini saya pakai hampir 2,5 tahun lamanya. Hampir tidak terhitung, sudah berapa banyak karya yg tercipta dari benda berbaling-baling empat ini. Di segala medan, dan kondisi apapun. Benar-benar tangguh dengan hasil yang begitu memuaskan.
Dengan hadirnya benda ini pula saya bisa semakin liar dalam menuangkan ide yang saya miliki. Ide yang sebelumnya terbatasi karena belum adanya benda yang sanggup terbang untuk memberikan saya point of view baru. Iya, point of view dari ketinggian. Karena terkadang, sebuah tempat akan jauh lebih menarik jika terlihat dari ketinggian. Bukankah begitu?

April 2018, merupakan masa baktinya yg terakhir. Kala itu di pantai Rowogebang, kawasan pesisir selatan kabupaten Blitar. Drone sedang berjemur di tepi pantai, warming up, mencari GPS Signal untuk lock positioning. Besiap untuk menjalankan tugasnya. Namun, saya tidak melihat hadirnya gelombang ombak besar yg menghantam kawasan pesisir begitu jauh. Hingga akhirnya sanggup untuk “menyapu” benda ini beserta benda-benda yang ada di sekitarnya. Terbalik, dan terjungkal dengan pasir dan air laut yang menutupi keempat baling-balingnya. System failure. Dan akhirnya benar-benar tidak sanggup untuk melanjutkan tugasnya. Sempat meneteskan air mata kenapa ini semua bisa terjadi. Kecerobohan yang berakibat fatal. Lalainya dalam melihat situasi dan kondisi hingga berujung pilu. Pilu yang teramat mendalam mengingat benda ini merupakan benda kesayangan yang begitu saya jaga dengan seksama.
Kini, sudah setahun lamanya benda tersebut masih tersimpan rapi ditempat dimana dia disimpan. Masih sama seperti pada saat kejadian itu. Dengan sisa butir-butir pasir yang masih menempel di beberapa bagian tubuhnya. Dengan beberapa karat yang semakin nampak melekat di setiap sudut bagian tubuhnya. Sejenak saya berfikir ketika saya ingin membukanya kembali. Seakan-akan dia berkata bahwa, "Baiklah..waktunya regenerasi." Karena memang kejadian itu begitu cepat, begitu tidak terduga hingga saya sama sekali tidak bisa berkata-kata ketika tubuhnya terendam air laut serta butiran-butiran pasir yang memaksa masuk ke dalam sela-sela.
Pengalaman pahit dan tentunya pelajaran yg sangat berharga untuk saya. Iya, untuk lebih waspada. Karena jika alam sudah berkata, tidak ada yang bisa menduga.









Comments